|
Judul: LANA Biarkan Cinta Menemukan Jalannya
Pengarang: Lovine Bherlyan
Penerbit: Salsabila Kautsar Utama
Cetakan: Pertama Juni 2009
Tebal: 392 hlm 18 cm
Pintu rumah Popo tampak meriah. Lampion merah bergelantungan di kanan dan kirinya. Wangi hio menusuk-nusuk hidung. Dari dalam rumah terdengar celotehan sepupu-sepupuku. ”Ini dia yang ditunggu-tunggu. Masuk, sayang. Tabek (Salam dengan mengepalkan kedua tangan dan menggoyangkannya) sama Popo,” Sambil tersenyum, Popo memanggilku. Aku pun menghambur dalam pelukannya, mencium keningnya dan membalas dengan tabek terbaikku. ”Gong Xi Fa Cai, Popo. Semoga Popo panjang umur dan sehat selalu.” Popo mengangguk-angguk. Lalu, menyelipkan angpau sambil berkata, ”Gong Xi Fa Cai, Mei Li.”
My name is Lana. Just Lana. Gadis peranakan Cina-Bengkulu ini lahir di Sambe, sebuah desa yang dingin di Kabupaten Curup. Kota ini berjarak 80 km dari Kota Bengkulu. Ia terlahir dalam keluarga kurang harmonis karena perbedaan agama orang tuanya.
Papanya adalah pria Bengkulu keturunan Cina yang tak jelas agamanya tapi memegang teguh adat istiadat nenek moyangnya. Sedangkan Mamanya asli Curup. Meski tak fanatik dalam beragama, Mamanya konsisten dengan keislamannya. Benturan keyakinan dalam rumah tangga pun tak bisa dihindari.
Sejak kecil, bocah berkulit putih dan bermata sipit ini sudah menerima perlakuan diskriminatif dari teman-temannya. Selama kelas 1 di SD Negeri, hampir tiap hari Lana disoraki, ”Cina ... Cina ... Cina ...” tanpa mampu melawan.
Meski begitu, Popo-nya (nenek dari garis Papanya) sangat menyayanginya. Sampai-sampai, sang nenek memanggilnya Mei Li, sebuah panggilan kesayangan Popo yang artinya cantik.
... Pintu rumah Popo tampak meriah. Lampion merah bergelantungan di kanan dan kirinya. Wangi hio menusuk-nusuk hidung. Dari dalam rumah terdengar celotehan sepupu-sepupuku. ”Ini dia yang ditunggu-tunggu. Masuk, sayang. Tabek (Salam dengan mengepalkan kedua tangan dan menggoyangkannya) sama Popo,” Sambil tersenyum, Popo memanggilku. Aku pun menghambur dalam pelukannya, mencium keningnya dan membalas dengan tabek terbaikku. ”Gong Xi Fa Cai, Popo. Semoga Popo panjang umur dan sehat selalu.” Popo mengangguk-angguk. Lalu, menyelipkan angpau sambil berkata, ”Gong Xi Fa Cai, Mei Li.”
Kebahagiaan ini tak bertahan lama. Perceraian orangtuanya tak bisa dihindari, setelah hampir tiap hari terjadi pertengakaran antara mereka.. Papa pergi meninggalkan dia dan adiknya, Adrian.
Tamat SMP, Mamanya meminta Lana melanjutkan sekolah ke pesantren di Jawa. Pilihan ini ditentang Popo yang taat sebagai Nasrani. Tarik menarik antara Mama dan Popo, membuat Lana bingung akan keberadaan Tuhan.
Tapi setelah Mama sambil menangis mengatakan, ”Apa kau rela Mama masuk neraka, Lan? Tolong selamatkan Mama, Nak. Mama tak mampu mengajarkanmu Islam. Mama ingin kau belajar agama di sana. Cukuplah Mama yang tersesat. Sampai ditanya Allah kelak, Mama sudah menjalani kewajiban Mama terhadapmu.” Akhirnya, Lana pun merantau ke Jawa untuk nyantri.
Dengan sedih Lana meninggalkan orang-orang terkasihnya, termasuk seorang lelaki bermata elang yang menjadi cinta pertamanya. Sekolah di pesantren, membuat Lana mengalami kehidupan yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Ia harus beradaptasi dengan teman-teman yang memiliki sifat berbeda, makanan yang tak sesuai selera, rambut yang diserang kutu, dan teror pembalut wanita yang menjijikan. Semua ini harus ia hadapi selama nyantri.
Cinta pertama yang dipendam, harus dipertaruhkan. Namun, semakin ia berusaha melupakan, cinta itu semakin menghantuinya. Pun ketika ia seharusnya merasakan cinta seutuhnya dalam bingkai pernikahan, lagi-lagi ia harus kecewa.
Bukan karena suaminya tak mencintainya, tapi karena bayang-bayang masa lalunya telah menyeret semakin jauh dari kebahagiaan cinta yang seharusnya ia miliki saat ini. Lana pun semakin gelisa karena cinta tak kunjung tiba. Berhasilkah Lana mendapatkan cinta sejati yang telah lama ia impikan?
Ini adalah novel yang menceritakan betapa kuatnya sebuah keyakinan dan betapa berharganya hubungan keluarga serta persahabatan. Selain itu, novel ini ditulis dalam tiga bagian utama yakni, episode masa kecil di Bengkulu, episode nyantri di Jawa, dan episode pasca nyantri hingga pernikahan.
Dalam rentang perjalanan hidupnya itu, Lana juga bersentuhan dengan realita dunia politik, gerakan Islam, dan dunia pendidikan yang saat ini digelutinya.
Dalam penggal cerita tentang dunia politik dan gerakan Islam misalnya, Lana terlibat dalam perdebatan dengan sahabat–sahabatnya yang dulu sama-sama nyantri. Meski sekarang memiliki profesi yang berbeda-beda, tapi perdebatan ini berkisar pada pilihan perjuangan antara yang memanfaatkan demokrasi dengan yang anti demokrasi.
Ada juga perdebatan antara yang memilih tegaknya khalifah Islamiyah sebagai tujuan utama dengan mereka yang mendambakan terciptanya masyarakat Islami. Hingga otokritik terhadap gerakan Islam yang saat ini eksis di dunia politik, agar tetap istiqamah dalam perjuangan dan tidak ”menjual” keislamannya.
Novel yang disajikan dengan gaya bahasa menarik dan alur cerita yang mengalir ini, sungguh layak menjadi inspirasi dan pelengkap dahaga Anda akan karya-karya bermutu.
|